Photobucket

Sahabat Maya :

Wednesday, July 14, 2010

Apa Yang Tertinggal............





Yang ditinggalkan lelaki itu




HANYA sekali saja,

kami sempat melihat kelibat pengembara itu

- beberapa hari setelah dia pulang

- dan waktu itu, kerana tidak pernah tahu

ke mana ia berpergian,

maka kami menyebutnya:

“Pulang... entah dari mana.”

Wajahnya ketika itu nampak amat letih;

pelupuk matanya sedikit lebam

- bajunya keruh dan compang

- satu petanda, betapa jauhnya,

dia sudah berjalan.

Kami takkan lupa

akan sifat dan sikapnya waktu itu;

perawakan yang akan kami kenang

sampai bila-bila.

Kami takkan lupa

pada sepasang mata bundarnya yang lesu;

serta tubuh susutnya yang sedikit

terhoyong-hayang

waktu berjalan.

Malah,

ketika susuk tubuhnya

yang kurus jangkung itu,

melangkaui semak denai

yang dilitupi lalang melepasi pinggang,

nampaklah kami akan keadaan kakinya;

sepatunya dilumuri debu -uzur dan rabak.

Tanpa sarung kaki,

seluarnya yang tersinting itu

menampakkan buku lali yang lebam

- seakan-akan kematu

- satu lagi gambaran,

betapa jauhnya dia sudah berjalan.

Juga buat kami percaya,

semua itu tanda

akan betapa lamanya dia

bergelumang dalam

putaran masa.

“Barangkali...

dia banyak duduk bersimpuh...

lalu buku lalinya jadi lebam,”

kata seseorang.

“Ya...

tanda apa yang masa sudah

lakukan pada lelaki ini?”

Kata seseorang yang lain

Akhirnya,

tatkala matahari sudah condong

agak jauh di pelipis langit,

dan kami tahu asar sudah menunda pergi

- dia pun muncul berdekatan

pohon berembang tua.

Pohon yang membangka;

bogel di musim kering.

Berembang tua,

nan satu-satunya yang mewakili

masa lalu kampung kami.

Kulit pada batangnya yang tinggi

mendongak itu sudah teruk menggelupas

- dan ranting-rantingnya pula kurus melidi.

Desir angin sejak berbulan-bulan yang lalu,

menelanjang pohon ini;

melarikan pergi daun-daunnya,

dan sifat ketuaan menjadikan

berembang ini tak mampu berdaun lagi.

Kami akan selalu ingat,

keadaan pohon itu, pada saat itu.

Tiap kali terlihat pada keuzuran pohon ini;

terutama dahan-dahannya

yang terkulai patah serta rantingnya

yang jatuh bertebaran di tanah

- kami segera terfikir:

“Lelaki yang singgah ini,

sama sengsara dengan

berembang kami.”

“Berapa umur pokok ini?”

Tanya seorang budak.

“Barangkali kali

moyang kepada moyang kamu

yang menanamnya...”

jawab seorang tua.

Dalam keasyikkan

membeza-bezakan manusia dan alamnya,

kami tiba-tiba menjadi sedikit cemas.

Kami yang termanggu dan menunggu,

melatah perlahan;

saling mengaduh.

“Hati-hati!”

Jerit seorang gadis yang meluru ke depan;

dia terhenti separuh langkah

- kerudungnya diseka angin dan

nampaklah rambutnya yang hitam bergerai itu

- dia berundur dan kelihatan

tunduk tanda malu.

Kami akan selalu ingat saat itu

- saat kami tergamam

melihat lelaki itu hampir tergelincir;

dek kakinya tersandung akar berembang

yang terbonjol di muka tanah.






2

“SEPERTI sungai membelah bumi,”

kata lelaki itu

sambil jari telunjuk tangan kanan

lalu dilintangkan ke kiri.

Kami terkedu,

dan dia diam sebentar;

tunak matanya meluru lembut

menembusi pandangan kami semua.

Si gadis menarik sedikit kerudungnya

yang melorot ke bahu,

nampak dia melisah dan gugup,

tatkala renungan lelaki itu

melintas pada wajahnya.

“Mula-mula aku merasa

seperti melihat sungai

yang benar-benar sungai,

tetapi kemudiannya aku tersedar,

ia bukan pun sungai,”

katanya lagi.

Kami terus terpegun

mendengar kata demi kata;

terpana dalam lara bak mendengar

suara burung yang berdendang

dari taman syurga.

Lelaki itu tiba-tiba keluar

dari dunia lelahnya;

suaranya tiba-tiba jadi bertenaga

tatkala dia bercerita

walhal sungai nan sebatang itu.

“Aku duduk di atas lantai kaca,

atau barangkali di atas

permaidani telus yang tercipta

dari cairan kristal.

Dari angkasa nun jauh di sana,”

katanya sambil memandang ke langit,

“Aku nampak negerimu

- dan akhirnya aku pasti

yang kulihat bukanlah sungai,

tetapi hanyalah gambaran aneh

yang membimbangkan!”

Langit merah tembaga;

matahari menyongsong jatuh di balik awan

tetapi masih berjengkal-jengkal jauh

dari kaki ufuk.

Bagi kami semua,

dalam panjang lebar cerita pengembaraannya,

perihal sungai inilah paling mempesona.

Kerana, dalam siri ceritanya yang panjang

dan

menakjubkan, hanya sungai inilah

yang kami rasakan paling berharga,

paling bermakna.

“Ini cerita kampung kita,” kata si tua.

“Ya...

kampung yang wujud sejak

zaman moyang kepada moyang

kepada moyang kita,” tambah si budak.

Tanah yang nampak hitam

dari muka angkasa itu, kata lelaki ini

- tampak berbalam-balam pada mulanya.

Malah dia langsung tak menyangka,

bayangan tanah yang terselindung

di balik awan pada satu saat,

tiba-tiba terlihat

bergerak-gerak.

“Lalu akhirnya.....

aku nampak sebahagian

dari kampung itu merekah-rekah,

lalu memancur tinggi debu-debu

yang membuak-buak hingga lintasannya

membentuk satu garisan.

Makin lama makin besar,

hingga akhirnya aku yakin

yang terlihat bukanlah pancuran

asap atau debu,

yang melintang membelah tanah ini

bukanlah sungai.”

Saat itu dia diam, agak lama juga.







3

HANYA sekali itulah saja,

kami sempat melihatnya.

Apapun

- dek terpana akan ceritanya

- perihal pengembaraannya selama

44 bulan menjelajah angkasa;

atau

sebenarnya kami jadi amat terseru

pada segala macam pengalaman

yang ditempuhnya sepanjang perjalanan

merentas benua ke benua itu,

wajah dan kata-katanya

selalu ada di fikiran.

Dia menjelajah angkasa;

kami percaya begitu.

Tetapi demi Allah,

kami tidak pernah menyamakan

pengembaraan itu dengan

Israk Mikraj.

Malah kami bersetuju,

selama mana pun kami mahu

menyimpan kenangan

terhadap pertemuan dengan pengembara itu,

kami sepakat untuk tidak

melebih-lebihkannya melampaui hukum agama;

malah kami juga tidak akan

membanding-bandingkan kisah ini

dengan apa jua

bentuk cerita yang lain.

“Dia hanya pengembara......

ingat!

Jangan sesekali disamakan dengan apa-apa;

tidak juga menyamai Batuta atau Khaldun

- tidak juga Magellan dan Columbus!”

Itu peringatan yang kami pegang,

kata seseorang

di antara kami juga.






4

KAMPUNG kami dipugar

oleh moyang kepada

moyang kepada moyang kami

- atau lebih lama dari itu.

Kata orang,

sejak zaman bermoyang-poyang lagi,

kampung kami yang nun terletak

antara lembah pergunungan di balik belukar

dan belitan paya nan luas ini,

tidak pernah dikunjungi orang;

tak pernah bertamu,

tak pernah ditandang.

Kampung kami,

jaraknya tidaklah jauh

untuk menuju ke kota;

hanya menyusur selokan lembah

yang ditumbuhi rumput hijau

dan

sesekali ditembungi padang lalang

nan saujana

- meredah hutan menuruni lembah

yang dipenuhi pohon keruing dan kemuning

- dan akhir sekali,

tentulah meredah paya bakau

dengan selut separas lutut dan berair

separas dada di musim tengkujuh

- maka sampailah ke simpang kota.

Selalu, hampir setiap minggu

- ada saja di antara penduduk

yang meredah semua persekitaran ini

lalu menuju ke kota;

menempuh perjalanan pergi balik sekitar tiga hari

- mencari segala macam keperluan harian.

Cuma tujuh atau lapan bulan lalu,

ketika ditanya orang di kota

- seorang tua di kalangan kami pun

segera bercerita:

“Tidaklah besar kampung kami.....

tidaklah pula ramai penduduknya .

Kalau saudara berjalan-jalan anak,

dari kepala jalan menuju ke hujung kampung,

selesailah langkah dalam separuh hari.

Jumlah penduduknya pula,

kalau kami berkenduri,

tak cukuplah berjamu

kalau sekadar sepuluh ekor

kerbau.”

Dek cerita itu,

seminggu kemudian,

datanglah sejumlah orang.

Kata si budak,

kasihan benar dia melihat,

akan sejumlah orang itu

tatkala mereka tiba di muka kampung.

Dek paya banat yang dipenuhi

lumpur dan selut,

maka separas pingganglah kotor jadinya

akan pakaian sejumlah orang itu.

“Dek hutan yang dipenuhi duri jalar rotan,

maka bercalar-calarlah wajah semua orang,

dan dek lembah yang curam,

maka terhegeh-hegehlah nafas,”

cerita si budak dengan rasa lucu

yang menggeletek.

Sejak itu,

si budak dan kami semua

sering melihat sejumlah orang itu

dan

sejumlah orang lain

masuk keluar ke kampung.

Dua jumlah manusia

yang datang silih berganti

pada dua silang masa yang berbeza.

Dua jumlah manusia

yang tak pernah bertentang mata

sesama mereka.

“Akan kami bawa semua

yang dicari di kota ke kampung,”

kata seseorang dari kumpulan pertama.

Seseorang dari sejumlah orang yang lain

pula berjanji:

“Pilihlah wakil kami,

anda tak perlu menuruni gunung,

meredah hutan dan berselut paya.”

Kami tak begitu mengerti apa-apa;

tetapi sejak itu,

di kampung kami,

tiap tetamu baru itu ada pengikutnya.

Kalau datang saja sejumlah orang itu,

maka adalah sejumlah penduduk kampung

bersama mereka.

Sesuai dengan pekerti kami,

dek kerana tamu itu

dua kumpulan jumlahnya,

maka

kami yang menyambut mereka,

pun harus berpecah dua juga.

Sejak sibuk dengan tetamu kota itu,

serta sibuk mendengar

begitu banyak rencana dan harapan mereka;

maka kami penduduk

dari sejumlah orang di sini

hampir tidak lagi berkesempatan

ketemu dan bersapa-sapa dengan penduduk

yang melayani sejumlah orang

dari kumpulan sana.

“Hampir aku lupa ya,

siapa orang kita yang berada

di kumpulan sana,” kata seorang

dari penduduk di sini.

Pada satu hari yang lain,

ketika kami berkumpul

melihat orang menumbangkan kerbau

untuk majlis keraian entah untuk siapa

- kami mendengar pula

cakap-cakap orang di sana:

“Aku rasa cukuplah

kalau menjemput orang yang di sini saja,

kerana orang kampung yang di sana,

nampak sibuk sungguh

dengan tamu-tamu mereka!”






5

PENGEMBARA itu sudah lama pergi

- lesap dan melenyap entah ke benua mana pula.

Cuma kami selalu mengenangnya,

sekalipun setelah bertahun-tahun

atau

barangkali lebih lama dari itu

- lelaki bermata bundar dan bertubuh jangkung itu,

usai sudah bercerita

tentang kisah pengembaraannya.

Walhal perjalanannya merentas

langit atau angkasa

atau entah apa.

Cuma yang kami faham,

dia pernah melihat kampung ini

dari atas udara sana

- melihat keadaan kami

yang hidup di lembah antara dua gunung

- dilingkari hutan keruing dan kemuning

serta dilingkari paya berselut paras lutut.

Cuma dari udara,

lelaki itu tidak melihat semua ini

- yang dilihatnya hanyalah

gumulan debu atau asap

atau barangkali pancuran air bak sungai

membelah dua kampung kami.

Seperti katanya:

“Aku melihat tanah ini terbelah dua

- dua kumpulan manusia

di dua tebing berbeza

- dipisahkan jurang yang dalam pula.”

Kami tidaklah begitu faham

akan cakap-cakapnya itu;

tetapi kami terus

memikirkan maksudnya.

Si gadis yang nampak gementar

dan

pudar matanya sejak pemergian lelaki itu,

sering bermenung-menung

di bawah pohon berembang;

dan akhirnya selalu duduk di situ

hingga kami tak pernah tahu

sama ada dia pernah pulang ke rumahnya .

Apa pun, kami yakin,

dialah saksi yang melihat

sejarah tumbangnya

berembang ini.

Si gadis

yang selalu duduk termanggu

sambil sering mengelap mata

dengan kerudungnya itu,

adalah saksi masa;

dia yang melihat satu demi satu,

lesapnya batang,

dahan dan ranting

berembang tua itu

dimamah arakan waktu.

Dan

si tua pula,

kalau-kalau kami ketemunya

melintas kawasan itu,

selalu mengulang-ulang cakapnya:

“Sunyi sungguh kampung ini...

orang yang di sana,

sudah tak mau bertemu

orang yang di sini.”

Si budak yang selalu mengekori kami,

akan segera menokok cakap si tua:

“Moyang kepada moyang kepada moyang kita,

tentu tahu

- mengapa ini semua terjadi.”

“Ya... ya... ya...” kata kami.



Teruskan membaca..

Tuesday, July 13, 2010

Ala cayang bucuk...




Salwa baru saja memulakan

pekerjaan barunya sebagai

seorang guru kaunseling

di sebuah sekolah.

Dia sangat bersemangat

untuk memberikan nasihat

kepada pelajar-pelajar

di sekolah itu.

Pada masa rehat..

dia melihat seorang pelajar

yang tengah berdiri seorang diri

di hujung padang

sedangkan kawan-kawangnya yang lain

asyik bermain

di tengah-tengah padang

mengejar bola

antara satu sama lain.

Salwa cuba mendekati pelajar itu

dan bertanya

apakah dia ada masalah…

Pelajar itu menjawab

bahawa keadaannya

baik saja.

Mendengar jawapan itu

Salwa lalu meninggalkannya.

Beberapa minit kemudian

Salwa memerhatikan lagi pelajar itu

masih sendirian di tempat yang sama.

Salwa kini yakin

bahawa pelajar ini

sebenarnya

mempunyai masalah.

Lalu sekali lagi

Salwa mendekati pelajar itu

dan berkata

penuh kelembutan…

“Apakah kamu mahu

kalau saya menemanimu?”

Pelajar itu menjawab..

“Okey.. boleh saja…!”

Merasa bahawa

pendekatannya berhasil

Salwa bertanya lagi..

“Kenapa kamu berdiri seorang diri di sini?”

“Kerana …”

jawab pelajar itu dengan penuh kehairanan…

“… Saya adalah penjaga gol!”

Teruskan membaca..

Sunday, July 11, 2010

Mata siapa yang tidak pernah menangis?








Gadis kecil itu telah bertahun

Dicengkam derita

Di khemah pelarian

Yang menjanjikan duka cita


Munir tak mengenal erti cinta

Telah kering airmata

Menangisi kematian

Ayahbonda dan saudara


Pada suatu senja

Langit Syatila

Menyaksikan pembunuhan

Anak kecil dan wanita


Munir ditembak

Penuh luka

Tapi ajalnya belum tiba

Kerna Tuhan mengasihi dia


Peristiwa hitam 17 September

Telah menjadi bukti

Sempurnalah kekejaman

Suatu bangsa yang sombong dan hina


Karya Zubir Ali.

(Al-Fatihah untuk Zubir Ali)











Petikan Dari Harakah Daily








KUALA LUMPUR, 15 Jun:
Pada 31 Mei lalu, seramai sembilan sukarelawan
dari Turki telah syahid sewaktu dalam
perjalanan menghantar bantuan kemanusiaan
kepada saudara seagama di Palestin.




Mereka dibunuh oleh tentera Israel
laknatullah ketika angkatan kuffar itu
menyerang kapal Turki M.V. Mavi Marmara
yang sedang dalam misi menyampaikan
bantuan kemanusiaan kepada penduduk
Gaza, Palestin yang sedang dikurung
dalam sebuah penjara
yang sungguh besar.





Berikut merupakan senarai syuhada
yang telah gugur sepanjang misi
menyampaikan bantuan tersebut
sebagaimana laporan
laman web Haluan Palestin:






1. Ibrahim Bilgen, 61,
seorang jurutera elektrik dari Siirt, Turki.
Ahli Chamber of Electrical Engineers di Turki,
berkahwin dan mempunyai
enam orang anak.





2. Ali Haydar Bengi, 39, dari Diyarbakir.
Graduan Universiti Al-Azhar, Kaherah, Mesir.
Telah berkahwin dan mempunyai
empat orang cahaya mata.






3. Cevdet Kiliçlar, 38.
Seorang wartawan dari Kayseri, Turki.
Telah berkahwin dan mempunyai
dua orang putera.






4. Çetin Topçuoglu, 54, dari Adana, Turki.
Pemain bola amatur dan jurulatih taekwondo
yang melatih atlet taekwondo Turki.
Berkahwin dan mempunyai
seorang cahaya mata.






5. Necdet Yildirim, 32, dari Malatya, Turki.
Berkahwin dan mempunyai
seorang anak perempuan
berusia tiga tahun.






6. Fahri Yaldiz, 43.
Seorang ahli bomba di Adiyaman, Turki.
Telah berkahwin dan mempunyai
empat orang anak.







7. Cengiz Songür, 47, dari Izmir, Turki.
Berkahwin dan mempunyai
tujuh orang anak.






8. Cengiz Akyüz, 41, dari Iskenderun, Turki.
Berkahwin dan mempunyai anak
berusia 14, 12 dan 9 tahun.






9. Furkan Dogan, 19, as-syahid termuda
dalam kalangan yang syahid,
merupakan pelajar Kayseri High School.
Anak kepada Dr. Ahmet Dogan,
seorang professor di Erciyes University.
Warganegara Turki-Amerika
dan
mempunyai
dua adik beradik.

Mother don’t cry for me I am heading off to war
God almighty is my armour and sword
Palestine, Forever Palestine

Children being killed for throwing stones in the sky
They say to their parents don’t worry, God is on our side
Palestine, Forever Palestine

Mother don’t worry when they come for us at night
Surely they’ll be sorry when God puts them right
Tell me why they’re doing what was done to them
Don’t they know that God is with the oppressed and needy
Perished were the nations that ruled through tyranny
Palestine, Forever Palestine

Children of Palestine are fighting for their lives
They say to their parents we know that Palestine is our right
They to say to their parents we’ll fight for what is right
They say not to worry God is on our side
They say we’ll die for Palestine
Palestine, Forever Palestine


Sami Yusuf - Forever Palestine









Banting Cakna Palestin
Teruskan membaca..

Wednesday, July 7, 2010

Umi,perlukah kita berdoa untuk guru?





Jika kita ingin berjaya,

jangan sekali-kali

kita menghina orang

yang pernah mengajar kita

sekalipun dia menyakiti kita.

Sentiasalah berdoa

untuk guru

kerana doa

akan menambah

barakahnya ilmu

yang diterima.





Apabila kita berdoa

untuk guru,

hati guru

akan menjadi lembut

dan

akan mengajar

dengan sempurna.




Percayalah

apabila guru menyayangi kita,

pelajaran akan mudah hadam

dan

dapat dihayati dengan baik.






Pelajaran

yang sempurna dihayati

sudah tentu mudah dihadapi

semasa peperiksaan.






Apabila guru menyayangi murid

sudah tentu dia akan

memberi keutamaan kepada murid

yang disayanginya untuk dibantu.





Sekeras mana sekalipun

hati seorang guru itu,

atau

segarang mana sekali pun

guru itu,

apabila

berdepan dengan murid yang baik

dan

hormat padanya,

InsyaAllah,

hatinya akan

menjadi lembut

untuk menyayangi murid tersebut.







Pokoknya,

doakanlah guru-guru

kita

kerana berdoa

untuk orang lain itu

adalah lebih mustajab

disamping kita

mendapat habuan

yang sama dengan orang

yang kita doakan.






Apalagi

yang kita doakan

itu adalah

guru kita.




Teruskan membaca..

Penat aku berjalan!!!!!!

Jalan itu.......

berliku dan berliku..

bersimpang-siur..

tiada perhentian..

melepaskan lelah...


Teruskan membaca..

Tuesday, July 6, 2010

Allah Maha Besar

RIVER UNDER THE SEA ( SUNGAI DI BAWAH LAUT )


Maha Suci Allah

yang Maha Menciptakan

Sungai dalam Laut





“Akan Kami perlihatkan

secepatnya kepada mereka kelak,

bukti-bukti kebenaran Kami

di segenap penjuru dunia ini

dan pada diri mereka sendiri,

sampai terang kepada mereka,

bahwa al-Quran ini suatu kebenaran.

Belumkah cukup bahwa Tuhan

engkau itu menyaksikan

segala sesuatu. ”

(QS Fushshilat : 53)




“Dan Dialah yang membiarkan

dua laut mengalir (berdampingan) ;

yang ini tawar lagi segar

dan

yang lain masin lagi pahit;

dan

Dia jadikan antara keduanya

dinding dan batas

yang menghalangi.”

(Q.S Al Furqan:53)




Jika anda termasuk orang yang gemar

menonton rancangan TV `Discovery’

pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau ,

ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam

terkemuka dari Perancis.

Orang tua yang berambut putih ini

sepanjang hidupnya menyelam

ke perbagai dasar samudera

di seantero dunia dan membuat

filem dokumentari tentang keindahan

alam dasar laut

untuk ditonton di seluruh dunia.

Pada suatu hari

ketika sedang melakukan

eksplorasi di bawah laut,

tiba-tiba ia menemui

beberapa kumpulan mata air tawar-segar

yang sangat sedap rasanya

kerana tidak bercampur/tidak melebur

dengan air laut yang masin

di sekelilingnya,

seolah-olah ada dinding

atau

membran yang membatasi keduanya.








Fenomena ganjil itu

memeningkan Mr. Costeau

dan mendorongnya untuk mencari

penyebab terpisahnya air tawar

dari air masin

di tengah-tengah lautan.

Ia mulai berfikir,

jangan-jangan itu hanya

halusinansi atau khalayan

sewaktu menyelam.

Waktu pun terus berlalu

setelah kejadian tersebut,

namun ia tak kunjung

mendapatkan jawapan

yang memuaskan

tentang fenomena

ganjil tersebut.

Sampai pada suatu hari

ia bertemu dengan seorang

profesor Muslim,

kemudian ia pun menceritakan

fenomena ganjil itu.

Profesor itu teringat

pada ayat Al Quran

tentang bertemunya dua lautan

( surat Ar-Rahman ayat 19-20)

yang sering diidentikkan

dengan Terusan Suez .

Ayat itu berbunyi

“Marajal bahraini yaltaqiyaan,

bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan.. .”

Ertinya:

“Dia biarkan dua lautan bertemu,

di antara keduanya ada batas

yang tidak boleh ditembus.”


Maha benar Allah dengan segala firman-Nya..





Kemudian

dibacakan Surah Al Furqan

ayat 53 di atas.

Selain itu,

dalam beberapa kitab tafsir,

ayat tentang bertemunya dua lautan

tapi tak bercampur airnya

diertikan sebagai

lokasi muara sungai,

di mana terjadi pertemuan

antara air tawar dari

sungai dan air masin dari laut.

Namun tafsir itu

tidak menjelaskan ayat berikutnya

dari Surah Ar-Rahman ayat 22

yang berbunyi

“Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan”

Ertinya:

“Keluar dari keduanya

mutiara dan marjan.”

Padahal

di muara sungai tidak

ditemukan mutiara.

Terpesonalah Mr. Costeau

mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu,

melebihi kekagumannya

melihat keajaiban pemandangan

yang pernah dilihatnya

di lautan yang dalam.

Al Qur’an ini mustahil

disusun oleh Muhammad

yang hidup di abad ke tujuh,

suatu zaman saat belum ada

peralatan selam yang canggih

untuk mencapai lokasi yang jauh

terpencil di kedalaman samudera.

Benar-benar suatu mukjizat,

berita tentang fenomena ganjil

14 abad yang silam

akhirnya terbukti pada abad 20.

Mr. Costeau pun berkata

bahawa Al Qur’an

memang sesungguhnya kitab suci

yang berisi firman Allah,

yang seluruh kandungannya

mutlak benar.

Dengan seketika dia pun memeluk Islam.



Maha Suci Allah

Yang Maha Menciptakan

Sungai dalam Laut

Allahu Akbar…!

Mr. Costeau mendapat hidayah

melalui fenomena teknologi kelautan.

Maha Benar Allah Yang Maha Agung.

Shadaqallahu Al `Azhim.




Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Sesungguhnya

hati manusia akan berkarat

sebagaimana besi

yang dikaratkan oleh air.”

Bila seorang bertanya,

“Apakah caranya

untuk menjadikan hati-hati ini

bersih kembali?”

Rasulullah s.a.w. bersabda,

“Selalulah ingat mati

dan

membaca Al Quran.”





Jika anda seorang penyelam,

maka anda harus mengunjungi

Cenote Angelita,Mexico.

Di sana ada sebuah gua.

Jika anda menyelam

sampai kedalaman 30 meter,

airnya air segar (tawar),

namun jika anda menyelam

sampai kedalaman lebih dari 60 meter,

airnya menjadi air asin,

lalu anda dapat melihat

sebuah “sungai” di dasarnya,

lengkap dengan

pohon dan daun daunan.





Setengah pengkaji mengatakan,

itu bukanlah sungai biasa,

itu adalah lapisan hidrogen sulfida,

nampak seperti sungai… luar biasa bukan?

Lihatlah

betapa hebatnya

ciptaan Allah SWT.


Allah Maha Hebat






Teruskan membaca..

Monday, July 5, 2010

Cikgu, macam mana kita nak pilih......



Pada suatu pagi
di satu sekolah menengah,
ada seorang pelajar
bertanya pada seorang guru
yang sedang mengajar.
Ketika itu,
guru tersebut
sedang menyentuh
mengenai kasih dan sayang
secara am.
Dialog di antara pelajar dan guru

tersebut berbunyi begini:-





Pelajar : Cikgu, macam mana kita
nak pilih seseorang yang terbaik
sebagai orang paling kita sayang?
Macam mana juga
kasih sayang itu nak berkekalan?




Cikgu : Oh, awak nak tahu ke?
Emmm...baiklah.
Sekarang kamu buat
apa yang saya suruh.
Ikut je ye...
mungkin kamu akan dapat
apa jawapannya.




Pelajar : Baiklah...
apa yang saya harus buat?



Cikgu : Kamu pergi ke padang sekolah
yang berada di luar kelas
sekarang juga.
Kamu berjalan di atas rumput
di situ dan sambil
memandang rumput
di depan kamu,
pilih mana yang
PALING cantik
tanpa menoleh
ke belakang lagi
walaupun sekali.
Dan kamu petiklah
rumput yang
PALING cantik
yang berada
di depan kamu tersebut
dan
selepas itu
bawa balik ke kelas.




Pelajar : Ok.
Saya pergi sekarang
dan
buat apa yang cikgu suruh.





Apabila
pelajar tersebut balik semula ke kelas,
tiada pun rumput yang berada di tangannya.
Maka
cikgu pun bertanya kepada pelajar tersebut.





Cikgu : Mana rumput yang cikgu suruh petik?





Pelajar : Oh, tadi saya
berjalan di atas rumput dan sambil
memandang rumput yang berada di situ,
saya carilah rumput yang paling cantik.
Memang ada banyak yang cantik
tapi cikgu kata
petik yang paling cantik
maka saya pun terus berjalan ke depan
sambil mencari yang paling cantik
tanpa menoleh ke belakang lagi.
Tapi
sampai di penghujung padang ,
saya tak jumpa pun yang paling cantik.
Mungkin ada di antara
yang di belakang saya sebelum itu
tapi dah cikgu cakap
tak boleh menoleh ke belakang semula,
jadi
tiadalah rumput
yang saya boleh petik.




Cikgu : Ya,
itulah jawapannya.
Maknanya,
apabila
kita telah berjumpa
dengan seseorang
yang kita sayang,
janganlah kita
hendak mencari lagi
yang lebih baik
daripada itu.
Kita patut
hargai orang
yang berada
di depan kita
sebaik-baiknya.
Janganlah kita menoleh
ke belakang lagi
kerana
yang berlaku tetap
dah berlaku.
Dan
semoga yang berlalu
tidak lagi berulang.
Jika
kita berselisih faham
dengan orang
yang kita sayang itu,
kita boleh perbetulkan
keadaan
dan cuba teruskan
perhubungan tersebut
walaupun
banyak perkara
yang menggugat
perhubungan
tersebut.
Dan
ingatlah
orang yang kita
sayang itulah
kita jumpa paling cantik
dan
paling baik
pada
MULAnya
walaupun nak ikutkan
banyak lagi
yang cantik dan baik
seperti
rumput tadi.




p/s : Justeru itu,
sayangilah orang yang berada
di sekeliling kita
dengan tulus dan ikhlas.





Teruskan membaca..

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...